<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ellilagi&#039;s Weblog</title>
	<atom:link href="http://ellilagi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ellilagi.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Jan 2011 04:18:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ellilagi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ellilagi&#039;s Weblog</title>
		<link>http://ellilagi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ellilagi.wordpress.com/osd.xml" title="Ellilagi&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ellilagi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sayap Patah</title>
		<link>http://ellilagi.wordpress.com/2011/01/31/sayap-patah/</link>
		<comments>http://ellilagi.wordpress.com/2011/01/31/sayap-patah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Jan 2011 04:18:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ellilagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ellilagi.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Sekumpulan burung dara tampak berkerumun di depan sarang mereka di sebuah pohon besar di tepian hutan. Keluarga besar burung ini sepertinya sedang bersiap untuk terbang ke suatu tempat. Wajah-wajah riang menghias tingkah mereka. Hari itu, keluarga besar burung dara itu memang akan berangkat menuju ladang jagung yang bersebelahan dengan hutan tempat mereka tinggal. Naluri mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=156&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekumpulan burung dara tampak berkerumun di depan sarang mereka di sebuah pohon besar di tepian hutan. Keluarga besar burung ini sepertinya sedang bersiap untuk terbang ke suatu tempat. Wajah-wajah riang menghias tingkah mereka.</p>
<p>Hari itu, keluarga besar burung dara itu memang akan berangkat menuju ladang jagung yang bersebelahan dengan hutan tempat mereka tinggal. Naluri mereka seperti sudah menjadwalkan kalau hari itu butiran-butiran jagung lezat akan berserakan seusai panen petani.</p>
<p>“Ah, sebuah tempat yang begitu mengasyikkan,” bisik hati seekor burung dara muda yang juga tak mau ketinggalan. Dan, mereka pun mulai mengepak-ngepakkan sayap masing-masing untuk siap terbang.</p>
<p>Sayangnya, sebatang dahan kering tiba-tiba terjatuh dan tepat menimpa si burung dara muda. “Aduh!” teriak sang burung spontan.</p>
<p>Dahan patah yang terjatuh dari ketinggian itu tepat menimpa sayap kanan sang burung. Ia pun merintih kesakitan.</p>
<p>Semua burung yang lain sudah terlanjur terbang meninggalkan si burung dara muda yang masih di depan sarang. Begitu bersemangatnya mereka terbang, hingga lupa kalau salah satu saudara mereka masih tertinggal di pintu sarang.</p>
<p>Kini tinggallah si burung dara muda merintih kesakitan. Beberapa kali ia mencoba terbang, tapi sayapnya yang luka masih nyeri untuk digerakkan. ”Ah, mungkin sayap kananku patah!” keluh sang burung masih membayangkan tempat indah yang mungkin kini sedang dinikmati saudara-saudaranya.</p>
<p>Dalam kesendirian itu, ia sempat bergumam, ”Tuhan, kenapa kau timpakan ketidaknyamanan hanya buatku seorang.”</p>
<p>Selama beberapa jam ia menunggu kepulihan sayapnya agar bisa terbang. Tiba-tiba, seekor burung dara menukik tajam dan nyaris menabrak sarang di mana si burung muda beristirahat. Ia pun kaget ketika mendapati salah seorang saudaranya sudah berada persis di depannya dengan beberapa luka di bagian pangkal kaki dan dada.</p>
<p>“Ada apa, saudaraku?” ucap si burung dara muda sambil memeriksa luka saudaranya. “Mana yang lain?” sambungnya.</p>
<p>Dengan tertatih-tatih, saudara burung itu pun berujar pelan. ”Semuanya tertangkap jebakan manusia. Hanya aku yang berhasil kabur,” ucap sang burung sebelum akhirnya terkulai.</p>
<p>Saat itu, si burung dara muda pun tercenung. Ia seolah bingung, apakah dengan kondisi patah sayapnya itu ia sedang diberikan ketidaknyamanan oleh Tuhan, atau sebaliknya.</p>
<p>**<br />
Dalam upaya menggapai cita-cita hidup, tidak jarang terjadi ‘patah sayap’ yang dialami sebagian kita. Bisa berupa gagal karir karena musibah, putus pendidikan karena biaya, gagal berjodohan karena sesuatu hal, dan sebagainya.</p>
<p>Nurani kemanusiaan kita pun seperti berontak untuk akhirnya mengatakan, “Tuhan, kenapa Kau timpakan ketidaknyamanan ini buatku seorang?”</p>
<p>Kalau saja ada kemampuan mata kita untuk melihat ujung perjalanan waktu yang akan kita alami, kalau saja kita bisa mengintip dari celah tirai hikmah hidup yang akan dilalui, mungkin hati dan lidah kita akan berujar, ”Terima kasih atas ketidaknyamanan ini, wahai Yang Maha Sayang!” (muhammadnuh@eramuslim.com)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ellilagi.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ellilagi.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ellilagi.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ellilagi.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ellilagi.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ellilagi.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ellilagi.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ellilagi.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ellilagi.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ellilagi.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ellilagi.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ellilagi.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ellilagi.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ellilagi.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=156&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ellilagi.wordpress.com/2011/01/31/sayap-patah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef4c96f2395b83de3d858de69ddf5722?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ellilagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menantu Bungsu</title>
		<link>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/12/menantu-bungsu/</link>
		<comments>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/12/menantu-bungsu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Nov 2010 11:51:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ellilagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ellilagi.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Membangun rumah tangga kadang tak beda dengan mendirikan rumah. Perlu saling cocok antara pondasi, jumlah lantai, ketebalan dinding, dan beratnya atap. Cuma bedanya, membangun rumah tangga tak perlu mandor. Pernahkah terbayang kalau ada pihak lain yang selalu khawatir dengan bangunan rumah tangga orang lain. Pertanyaan itu mudah dijawab. Dan jawabannya siapa lagi kalau bukan orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=154&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membangun rumah tangga kadang tak beda dengan mendirikan rumah. Perlu saling cocok antara pondasi, jumlah lantai, ketebalan dinding, dan beratnya atap. Cuma bedanya, membangun rumah tangga tak perlu mandor.</p>
<p>Pernahkah terbayang kalau ada pihak lain yang selalu khawatir dengan bangunan rumah tangga orang lain. Pertanyaan itu mudah dijawab. Dan jawabannya siapa lagi kalau bukan orang tua. Merekalah pihak yang kerap khawatir dengan keberlangsungan rumah tangga anak-anaknya.</p>
<p>Hal itu memang wajar. Ibarat membelikan anak sepeda baru, para orang tua terikat pada dua rasa: puas karena bisa membahagiakan anaknya, dan khawatir karena ada ancaman baru yang bisa membuat anak terluka. Di satu sisi, bersepeda bisa membangun keterampilan baru buat anak. Tapi di lain sisi, peluang anak terjatuh dan berdarah juga membesar.</p>
<p>Seperti itu juga rasa orang tua saat melepas gadisnya berlayar pada bahtera baru rumah tangga. Ada rasa puas karena sukses menunaikan amanah. Ada juga gundah kalau-kalau rumah tangga anak tak berlangsung lama. Terlebih lagi ketika proses pernikahan terasa tak &#8216;normal&#8217;. Hal itulah yang kerap dirasakan Pak Dede.</p>
<p>Bapak usia lima puluhan ini bisa dibilang cuci gudang. Gadis bungsunya baru saja menikah. Usai sudah tugasnya menunaikan amanah lima anak. Semuanya sudah mandiri. Semuanya sudah berkeluarga.</p>
<p>Namun, ada yang lain buat yang terakhir. Gadis bungsu kesayangannya tiba-tiba minta nikah. Permintaan ini seperti bom di siang bolong. Heboh! Khususnya buat Pak Dede. &#8220;Bayangkan, kenalan sama cowok saja belum pernah. Eh, tahu-tahu udah punya calon suami!&#8221; ucap Pak Dede suatu kali.</p>
<p>Ia nggak habis pikir, gimana caranya tiba-tiba ada calon suami. Tanpa kenalan. Tanpa pacaran. Pak Dede tahu benar bungsunya. Beda dengan kakak-kakaknya yang hobi gaul. Tiap malam minggu, semua anaknya selalu keluar. Kecuali si bungsu itu.</p>
<p>Seumur-umur, Pak Dede belum pernah menerima tamu pemuda yang nyari-nyari bungsunya. Kecuali suatu kali. Dan hal itu telah membuktikan kalau ucapan bungsunya benar-benar serius. Pemuda itu bilang ke Pak Dede, &#8220;Maksud saya ke sini mau melamar anak Bapak!&#8221; Hampir-hampir saja, Pak Dede pingsan.</p>
<p>Kalau bukan karena khawatir bungsunya bisa patah arang, Pak Dede mungkin akan menolak mentah-mentah. Lamaran itu pun ia terima. Dan pernikahan pun akhirnya berlangsung meriah. Ia yakin, anaknya yang berjilbab itu tidak mungkin hamil lebih dulu. Lha, melihat orang pacaran saja belum pernah. Cuma satu hal yang mengusik pikiran Pak Dede: dukun mana yang semanjur itu? Benar-benar tok-cer! Apalagi menantu barunya itu bisa dibilang biasa-biasa saja. Kayak tidak, ganteng juga jauh.</p>
<p>Itulah kenapa, Pak Dede menolak ketika bungsunya mau pindah rumah. &#8220;Jangan! Tinggal bareng aja sama ayah dan ibu,&#8221; ucapnya menanggapi permintaan anak dan menantunya. Pak Dede pun berdalih kalau ia dan isterinya akan kesepian ditinggal anak-anak.</p>
<p>Sebenarnya, Pak Dede punya alasan sendiri. Ia masih penasaran, hal apa yang membuat anaknya bisa cinta sama menantunya itu. Hampir tiap malam, Pak Dede menguntit sang menantu. Kalau kedapatan sedang nyebar kemenyan, ia akan langsung tangkap.</p>
<p>Tujuh hari tujuh malam, Pak Dede terus menguntit. Hingga di malam kedelapan, menantunya keluar kamar. Waktu menunjukkan pukul dua malam. Suatu hal yang tidak lazim buat kebiasaan pengantin baru. Soalnya, di kamar itu sudah ada kamar mandi. Buat apa lagi keluar kamar kalau bukan urusan mistik. Pak Dede tetap menunggu. Ia makin curiga ketika menantunya menuju ruang atas. Padahal, di atas cuma ada tiga ruangan: menjemur, ruang baca, dan mushola. Pak Dede makin penasaran.</p>
<p>Setelah tiba di atas, ia perhatikan kalau menantunya masuk ke ruang mushola. &#8220;Gila, mau apa tengah malam di mushola?&#8221; bisik batin Pak Dede. Soalnya, ia sendiri jarang salat di situ. Biasanya cuma di kamar. Ia menunggu saat tepat. Pak Dede yakin, tak lama lagi, akan ada suara mantera-mantera dan bau aneh. Ternyata, tidak. Sayup-sayup, Pak Dede mendengar orang membaca Alquran. Suaranya mengalun merdu. Indah sekali. Hampir-hampir saja Pak Dede menangis karena untaian iramanya yang begitu menyentuh. &#8220;Luar biasa. Menantuku ternyata bukan orang sembarangan!&#8221; batin Pak Dede sambil kembali ke kamar tidur.</p>
<p>Kini, Pak Dede mengakui kalau menantunya itu orang alim. Tapi, ia masih ragu. Ia yakin, kalau pernikahan yang prematur pasti akan ada ketidakcocokan. Hampir tak pernah bosan, Pak Dede mencuri dengar dari balik pintu kamar anaknya.</p>
<p>Benar saja. Dari kamar seperti ada suara ribut. Anak dan menantunya sedang berebut omongan. &#8220;Nggak bisa, kamu yang salah! Akang yang salah!&#8221; Dan, seterusnya. Spontan, Pak Dede mengetuk pintu kamar. Sudah tak sabar ia ingin memberi nasihat.</p>
<p>Setelah pintu kamar terbuka, Pak Dede langsung bersuara. &#8220;Anakku. Itulah sebabnya jika pernikahan terburu-buru. Kamu akan terus bertengkar!&#8221; Anehnya, ucapan itu justru membuat anak dan menantunya tersenyum. Dan si bungsu pun bilang, &#8220;Ayah sayang, kami bukan sedang cekcok. Kami lagi beda pendapat soal ada-tidaknya Alqaedah!&#8221;</p>
<p>Pak Dede cuma bingung. Ia pun menggaru-garuk kepala. Di pikirannya cuma ada satu pertanyaan: makanan khas mana Alkaedah itu? (muhammadnuh@eramuslim.com)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ellilagi.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ellilagi.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ellilagi.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ellilagi.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ellilagi.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ellilagi.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ellilagi.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ellilagi.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ellilagi.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ellilagi.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ellilagi.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ellilagi.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ellilagi.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ellilagi.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=154&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/12/menantu-bungsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef4c96f2395b83de3d858de69ddf5722?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ellilagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pusing, Naik</title>
		<link>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/08/pusing-naik/</link>
		<comments>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/08/pusing-naik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 03:18:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ellilagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ellilagi.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga dan negara bisa dibilang seperti daun dan pohon. Daun akan berwarna hijau segar kalau pohonnya sehat. Jangan pernah membayangkan nasib daun kalau pohonnya keropos. Karena para tangkainya saja sudah lama gugur. Sulit memisahkan keadaan negara dengan warna-warni gerak keluarga. Keduanya selalu berkaitan. Negara makmur, keluarga akur. Negara amburadul, keluarga seperti kena bisul. Itulah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=151&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keluarga dan negara bisa dibilang seperti daun dan pohon. Daun akan berwarna hijau segar kalau pohonnya sehat. Jangan pernah membayangkan nasib daun kalau pohonnya keropos. Karena para tangkainya saja sudah lama gugur.</p>
<p>Sulit memisahkan keadaan negara dengan warna-warni gerak keluarga. Keduanya selalu berkaitan. Negara makmur, keluarga akur. Negara amburadul, keluarga seperti kena bisul.</p>
<p>Itulah yang kerap terjadi saat ini. Urusan minyak tanah saja, sudah menjadi jihad tersendiri. Belum lagi harga-harga sembako, motonya cuma satu kata: naik! Kegelisahan seperti itulah yang kini dirasakan Pak Kodar.</p>
<p>Bapak tiga anak ini kadang bingung dengan cara apalagi bisa hidup makmur. Setidaknya, mendekati makmur. Soalnya, gaji di perusahaan garmen tempat Pak Kodar kerja, nyaris tak kenal kata naik. Pak Kodar justru lebih sering mendengar kata &#8216;naik&#8217; dari rumah. &#8220;Mas, beras naik. Gula naik. Sabun, telur, terigu, semua naik,&#8221; seperti itulah yang kerap terdengar dari isterinya. Rindu rasanya Pak Kodar mendengar kata &#8216;turun&#8217;. Sayangnya, kerinduan itu tak mudah terkabul. Naik, dan lagi-lagi sebutan naik!</p>
<p>Berbagai usaha sambilan telah dicoba Pak Kodar. Apa saja. Mulai dagang madu ke tempat kerja, perbaiki listrik tetangga, hingga ngojek motor di kampung sebelah. Tapi, tetap saja daftar pengeluaran lebih panjang dari pemasukan.</p>
<p>Kadang, Pak Kodar jadi sering pusing. Pernah ketika pulang kerja, dua anaknya yang SD langsung nodong. &#8220;Pak, duit bukunya mana?&#8221; ucap keduanya hampir bersamaan. &#8220;Harganya naik, Pak!&#8221; tambah isterinya menimpali. Si bungsu pun ikut ngomong, &#8220;Daftalin ke TK dong, Pak!&#8221; Pak Kodar pun segera duduk. Ia menarik nafas, dalam sekali! &#8220;Ah, pusingnya mendingan,&#8221; ucapnya pelan. Dan ia pun berzikir pelan, &#8220;Subhanallah, walhamdulillah&#8230;.&#8221;</p>
<p>Namun, tidak jarang pusingnya sulit disembuhkan. Kadang di bagian kiri kepala. Kadang pindah ke kanan, depan dan belakang. Entah kenapa, kalau mendengar kata &#8216;naik&#8217; jantungnya berdegup kencang. Dug, dug, dug. Dan, pusing di kepalanya pun datang. &#8220;Astaghfirullah! Kok jadi begini,&#8221; suara Pak Kodar membatin.</p>
<p>Sejak itu, Pak Kodar jadi sering minum obat pusing. Tiap ke puskesmas, perbendarahaan obatnya kian tambah. Tapi anehnya, dokter tidak bilang kalau Pak Kodar terhinggap penyakit berat. &#8220;Jantung Anda normal!&#8221; ucap sang dokter suatu kali. &#8220;Mungkin, Bapak cuma kurang tidur,&#8221; tambah dokter sambil menyebut beberapa vitamin tambahan yang mesti diminum.</p>
<p>Tapi tetap saja, pusing Pak Kodar tak kunjung usai. Dan polanya selalu sama: kalau menonton berita soal harga di tivi, ia jadi langsung pusing. Begitu pun ketika tanpa sengaja melihat judul koran yang dijaja penjual di kendaraan umum, pusing Pak Kodar tiba-tiba kumat. Pusing sekali!</p>
<p>Kadang, ada terapi khusus yang dilakukan Pak Kodar soal pusingnya. Entah kenapa, kalau anak sulungnya menyuarakan nasyid, pusingnya lambat laun berkurang. Alunan merdu irama nasyid si sulung seperti tangan khusus yang memijat-mijat kepala Pak Kodar. &#8220;Terus, Kak! Suara Kakak enak sekali!&#8221; ucap Pak Kodar memuji sulungnya. Sementara, anak bungsu Pak Kodar cuma menatap heran.</p>
<p>Atas nasihat seorang teman, Pak Kodar mencoba cara ruqyah. Ia berharap, jin-jin stres yang mungkin bercokol dalam dirinya bisa kabur. Setelah itu, sakit pusingnya tak lagi datang.</p>
<p>Ternyata benar. Selepas diruqyah, pusing Pak Kodar mulai reda. &#8220;Apa banyak jinnya, Pak Ustadz?&#8221; ucap Pak Kodar setelah terapi ruqyah. Yang ditanya cuma senyum. &#8220;Kamu tidak apa-apa. Cuma bingung berat. Perbanyaklah berzikir,&#8221; ungkap yang disebut ustadz begitu tenang. Pak Kodar pun manggut-manggut.</p>
<p>Hingga suatu hari, pusing Pak Kodar lagi-lagi kumat. Listrik tetangga yang ia tangani dikabarkan koslet. Begitu pun soal motor ojek yang ia sewa dari teman. Entah kenapa, motor itu mogok. Mungkin karena busi kotor, bensin lupa diisi, atau lainnya. Dari sekian yang membangunkan pusing Pak Kodar, ada yang paling berat ia rasakan. Isterinya tanpa sadar bilang, &#8220;Mas, Desember ini BBM katanya naik. Naik!&#8221;</p>
<p>Pak Kodar pun terbaring di kamar tidur. Ia seperti tak berdaya. Pusing sekali. Saat itu, ia berharap kalau si sulung bisa melantunkan nasyid nan merdu. Tapi, yang diharap tak kunjung datang. Tiba-tiba, si bungsu datang. &#8220;Bapak pucing, ya! Adek nyanyiin, ya?&#8221; ucap si bungsu bersemangat. Pak Kodar pun tersenyum. Ia mulai menyimak. Tapi, lagu dari si bungsu justru membuat pusing Pak Kodar kian menjadi. Pusing sekali!</p>
<p>Dengan bangga, si bungsu terus saja menyanyi. Ia mengulang-ulang satu bait lagu anak yang ia hafal: &#8220;Naik naik ke puncak gunung. Tinggi tinggi sekali. Naik naik ke puncak gunung. Tinggi tinggi sekali! Naik naik ke puncak gunung. Tinggi tinggi sekali! Naik naik&#8230;.&#8221; (muhammadnuh@eramuslim.com)</p>
<p>hmmm kayaknya makin banyak pak kodar pak kodar yang lain nih&#8230; </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ellilagi.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ellilagi.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ellilagi.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ellilagi.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ellilagi.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ellilagi.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ellilagi.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ellilagi.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ellilagi.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ellilagi.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ellilagi.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ellilagi.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ellilagi.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ellilagi.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=151&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/08/pusing-naik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef4c96f2395b83de3d858de69ddf5722?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ellilagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menunggu&#8230;</title>
		<link>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/04/menunggu/</link>
		<comments>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/04/menunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2010 02:48:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ellilagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ellilagi.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu tempat di tepian sungai, seorang pemuda memandangi seorang pemancing tua. Sambil duduk beralas daun pisang, Pak Tua begitu menikmati kegiatan memancing. Ia pegang gagang pancingan dengan begitu mantap. Sesekali, tangannya membenahi posisi topi agar wajahnya tak tersorot terik sinar matahari. Sambil bersiul, ia sapu hijaunya pemandangan sekitar sungai. Sang pemuda terus memandangi si [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=147&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di suatu tempat di tepian sungai, seorang pemuda memandangi seorang pemancing tua. Sambil duduk beralas daun pisang, Pak Tua begitu menikmati kegiatan memancing. Ia pegang gagang pancingan dengan begitu mantap. Sesekali, tangannya membenahi posisi topi agar wajahnya tak tersorot terik sinar matahari. Sambil bersiul, ia sapu hijaunya pemandangan sekitar sungai.</p>
<p>Sang pemuda terus memandangi si pemancing tua. &#8220;Aneh?&#8221; ucapnya membatin. Tanpa sadar, satu jam sudah perhatiannya tersita buat Pak Tua. Tujuannya ke pasar nyaris terlupakan. &#8220;Bagaimana mungkin orang setua dia bisa tahan berjam-jam hanya karena satu dua ikan?&#8221; gumamnya kemudian.</p>
<p>&#8220;Belum dapat, Pak?&#8221; ucap si pemuda sambil melangkah menghampiri Pak Tua. Yang disapa menoleh, dan langsung senyum. &#8220;Belum,&#8221; jawabnya pendek. Pandangannya beralih ke si pemuda sesaat, kemudian kembali lagi ke arah genangan sungai. Air berwarna kecoklatan itu seperti kumpulan bunga-bunga yang begitu indah di mata Pak Tua. Ia tetap tak beranjak.</p>
<p>&#8220;Sudah berapa lama Bapak menunggu?&#8221; tanya si pemuda sambil ikut memandang ke aliran sungai. Pelampung yang menjadi tanda Pak Tua terlihat tak memberikan tanda-tanda apa pun. Tetap tenang.</p>
<p>&#8220;Baru tiga jam,&#8221; jawab Pak Tua ringan. Sesekali, siulannya menendangkan nada-nada tertentu. &#8220;Ada apa, Anak Muda?&#8221; tiba-tiba Pak Tua balik tanya. Si Pemuda berusaha tenang. &#8220;Bagaimana Bapak bisa sesabar itu menunggu ikan?&#8221; tanyanya agak hati-hati.</p>
<p>&#8220;Anak Muda,&#8221; suara Pak Tua agak parau. &#8220;Dalam memancing, jangan melulu menatap pelampung. Karena kau akan cepat jenuh. Pandangi alam sekitar sini. Dengarkan dendang burung yang membentuk irama begitu merdu. Rasakan belaian angin sepoi-sepoi yang bertiup dari sela-sela pepohonan. Nikmatilah, kau akan nyaman menunggu!&#8221; ucap Pak Tua tenang. Dan ia pun kembali bersiul.<br />
**<br />
Tak ada kegiatan yang paling membosankan selain menunggu. Padahal, hidup adalah kegiatan menunggu. Orang tua menunggu tumbuh kembang anak-anaknya. Rakyat menunggu kebijakan pemerintahnya. Para gadis menunggu jodohnya. Pegawai menunggu akhir bulannya. Semua menunggu.</p>
<p>Namun, jangan terlalu serius menatap &#8216;pelampung&#8217; yang ditunggu. Karena energi kesabaran akan cepat terkuras habis. Kenapa tidak mencoba untuk menikmati suara merdu pergantian detak jarum penantian, angin sepoi-sepoi pergantian siang dan malam, dan permainan seribu satu pengharapan.</p>
<p>Nikmatilah! Insya Allah, menunggu menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Seperti memandang taman indah di tepian sungai. (mnuh)</p>
<p>www.eramuslim.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ellilagi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ellilagi.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ellilagi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ellilagi.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ellilagi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ellilagi.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ellilagi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ellilagi.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ellilagi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ellilagi.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ellilagi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ellilagi.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ellilagi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ellilagi.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=147&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/04/menunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef4c96f2395b83de3d858de69ddf5722?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ellilagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>POLOS</title>
		<link>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/03/polos/</link>
		<comments>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/03/polos/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 04:47:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ellilagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ellilagi.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Lembaran kertas putih merasa tak nyaman ketika baru saja keluar dari pabrik. Ia merasa bingung dengan kenyataan dirinya. Tidak ada garis, tulisan, atau warna apa pun kecuali putih. Tapi, wujudnya berbentuk buku seperti yang lain. “Kok aku beda?” tanya si buku polos ke lembaran buku tulis yang lain. “Beda?” sergah salah satu buku tulis bergaris. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=144&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lembaran kertas putih merasa tak nyaman ketika baru saja keluar dari pabrik. Ia merasa bingung dengan kenyataan dirinya. Tidak ada garis, tulisan, atau warna apa pun kecuali putih. Tapi, wujudnya berbentuk buku seperti yang lain.</p>
<p>“Kok aku beda?” tanya si buku polos ke lembaran buku tulis yang lain. “Beda?” sergah salah satu buku tulis bergaris. “Iya. Coba perhatikan, kamu tercetak dengan garis-garis teratur. Ada yang kotak-kotak. Yang lainnya lagi bahkan ada yang tertulis dengan huruf berwarna disertai kartun lucu,” ucap buku polos bersemangat. “Sementara aku? Boro-boro kartun lucu, satu garis pun tak ada yang hinggap!” tambah si buku polos menggugat.<br />
“Jadi, kamu tak terima?” tanya buku bergaris teratur, lembut. “Tentu saja! Ini tidak adil!” sergah si buku polos begitu spontan.<br />
Semua terdiam. Semua jenis buku tulis mulai ambil jarak dengan buku polos. Mereka khawatir kalau ketidakpuasan bukan sekadar gugatan, tapi berubah jadi tindakan. Hingga&#8230;</p>
<p>Seorang anak manusia mengambil buku polos dengan tangan kecilnya. Lembaran buku tak bergaris dan berwarna itu pun dipandangi sang anak begitu tajam. Entah apa yang dilakukan, beberapa menit kemudian, buku polos itu tak lagi putih sepi. Ia sudah berubah menjadi halaman penuh warna. Ada goresan merah, hijau, biru, kuning, dan berbagai perpaduan warna lain.<br />
Ketika buku itu ditinggalkan sang anak, beberapa buku lain datang menghampiri. Semua terperanjat. Karena lembaran yang semula polos, kini berubah menjadi bentuk lukisan penuh warna. “Aih indahnya!” gumam semua buku tulis begitu kagum.</p>
<p>Saat itulah, sang buku polos sadar. Selama ini, ia salah. Kepolosannya tanpa garis bukan bentuk penghinaan terhadap dirinya. Bukan juga ketidakadilan. Tapi, karena ia akan menjadi wadah berbagai goresan warna seni yang akan membentuk karya indah. “Ah, aku ternyata buku gambar!” ucap si buku polos akhirnya. **<br />
Hidup ini penuh warna. Hampir tak ada yang sama pada ciptaan Allah. Walaupun, masih sama-sama manusia. Ada yang kaya, cukup, dan kurang. Ada yang cantik, tampan; ada pula yang biasa saja. Ada yang berhasil dan sukses, tidak sedikit yang merasa gagal.<br />
***<br />
Tidak jarang, seorang anak manusia mengambil pandangan dari sudut yang sempit. Bahwa, kegagalan adalah sebuah ketidakberdayaan. Bahwa, belum tampaknya peluang-peluang berkarya adalah ketidakadilan. Hingga, jauhnya jodoh buat para lajang merupakan sebuah hukuman.<br />
Cermati dan pelajari. Karena boleh jadi, di balik kegagalan ada rahasia kesuksesan. Di balik sempitnya peluang, ada ujian kemampuan. Di balik lajang yang berkepanjangan, ada pendidikan kemandirian. Dan di balik kertas polos, ada peluang warna-warni keindahan goresan kehidupan. (muhammadnuh@eramuslim.com)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ellilagi.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ellilagi.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ellilagi.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ellilagi.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ellilagi.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ellilagi.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ellilagi.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ellilagi.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ellilagi.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ellilagi.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ellilagi.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ellilagi.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ellilagi.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ellilagi.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=144&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/03/polos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef4c96f2395b83de3d858de69ddf5722?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ellilagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hujan</title>
		<link>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/03/hujan/</link>
		<comments>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/03/hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 04:44:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ellilagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ellilagi.wordpress.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. &#8220;Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?&#8221; ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut. &#8220;Anakku,&#8221; ucap sang induk kemudian. &#8220;Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik.&#8221; jelas induk katak sambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=139&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap.<br />
&#8220;Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?&#8221; ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.</p>
<p>&#8220;Anakku,&#8221; ucap sang induk kemudian. &#8220;Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik.&#8221; jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.<br />
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. &#8220;Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?&#8221; tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.</p>
<p>&#8220;Anakku. Itu cuma angin,&#8221; ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. &#8220;Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!&#8221; tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.</p>
<p>&#8220;Blarrr!!!&#8221; suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. &#8220;Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!&#8221; ucapnya sambil terus memejamkan mata.</p>
<p>&#8220;Sabar, anakku!&#8221; ucapnya sambil terus membelai. &#8220;Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang,&#8221; ungkap sang induk katak begitu tenang.<br />
Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan.<br />
Tiba-tiba, ia berteriak kencang, &#8220;Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!&#8221;<br />
**<br />
Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum. Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan.<br />
Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.<br />
Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu, insya Allah, akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan. (mnuh)</p>
<p><em>www.eramuslim.com/hikmah/tafakur</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ellilagi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ellilagi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ellilagi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ellilagi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ellilagi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ellilagi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ellilagi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ellilagi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ellilagi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ellilagi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ellilagi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ellilagi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ellilagi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ellilagi.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=139&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ellilagi.wordpress.com/2010/11/03/hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef4c96f2395b83de3d858de69ddf5722?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ellilagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Munafik, Orang Penuh Rekayasa</title>
		<link>http://ellilagi.wordpress.com/2010/09/24/munafik-orang-penuh-rekayasa/</link>
		<comments>http://ellilagi.wordpress.com/2010/09/24/munafik-orang-penuh-rekayasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Sep 2010 05:20:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ellilagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ellilagi.wordpress.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Tanda orang munafik ada tiga, apabila seseorang diberi amanat, ia khianat; apabila berbicara, ia dusta; apabila berjanji, ia tidak menepatinya; dan apabila berdebat, ia akan berbuat curang. (HR. Mutafaq’alaih) Sesungguhnya orang munafik adalah orang yang penuh dengan kepalsuan, penuh dengan rekayasa dan lebih sibuk membangun topeng. Sedangkan seorang mukmin hidupnya asli, tidak ada rekayasa, karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=134&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanda orang munafik ada tiga, apabila seseorang diberi amanat, ia khianat; apabila berbicara, ia dusta; apabila berjanji, ia tidak menepatinya; dan apabila berdebat, ia akan berbuat curang. (HR. Mutafaq’alaih)</p>
<p>Sesungguhnya orang munafik adalah <strong>orang yang penuh dengan kepalsuan, penuh dengan rekayasa dan lebih sibuk membangun topeng</strong>. Sedangkan seorang mukmin hidupnya asli, tidak ada rekayasa, karena semua kebohongan itu tidak diperlukan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Allah tidak memerlukan kepalsuan itu. Allah yang Maha Memiliki segalanya. Seorang mukmin seyogyanya bersih perbuatanya. Tidak terlalu banyak memikirkan pandangan orang lain, yang terpenting dalam pandangan Allah saja. Hidupnya apa adanya.</p>
<p>Orang munafik itu berbahaya, karena ia sesungguhnya <strong>orang musyrik hatinya, tapi lahiriahnya menampilkan orang beriman, seperti Abdullah bin Ubay</strong>. Orang munafik pun bisa dilihat dari perilakunya sehari-hari. Semua perbuatannya mencerminkan tidak ingin dekat dengan Allah, tidak memakai hati, melainkan agar dinilai orang lain. <strong>Sebisa mungkin orang munafik akan berusaha keras untuk benar-benar dengan akal-akalan melakukan apa pun di hadapan orang lain, seperti ingin berwibawa</strong>. Sehingga selama ia berbicara dan berbuat, fokusnya hanya untuk mengatur kewibawaannya, tidak melihat hati.</p>
<p>Orang munafik ketika berkata seringkali ditambah-tambah dengan kebohongan. <strong>Tidak sesuai antara keterangan dan kenyataannya</strong>. Bahkan beda antara mulut dan hatinya. Ia tidak bisa dipegang pembicaraannya. Dia berjanji bukan berniat akan ditepati, melainkan untuk keinginan sesuatu dari orang lain. Bagi yang berniat menepati janji, ketika berjanji berarti ia mengunci untuk ditagih yang membuatnya, sedangkan bagi orang munafik, janjinya untuk sekadar agar orang lain percaya atau senang padanya. Makanya ia mudah mengeluarkan janji-janjinya. Dalam hal amanah ia tidak mempedulikan amanah dari Allah, melainkan lebih mengutamakan gayanya daripada hakikat dari amanah yang dipikulnya.</p>
<p>Dalam aspek ibadah pun seorang munafik bisa terdeteksi. Dalam berdoa misalnya, mulut berdoa tapi hati tidak. Benarkah hatinya ingin mendekat kepada Allah? Allah mengetahui semua kebohongan itu, Allah tidak bisa di bohongi. Karena Allah mengetahui lubuk hati terdalam. Apakah ingin diketahui, dilihat, ataukah diperlakukan spesial.</p>
<p>Keinginan-keinginan tersebut semestinya lepas dari makhluk, barulah akan tenang hati ini. Kita tidak memerlukan pengakuan orang, yang penting Allah saja. Jangan sampai kita menggunakan nama Allah untuk komoditas agar terlihat shaleh. Sekilas mungkin orang akan terkecoh oleh kepalsuan, sedangkan Allah tidak bisa dikelabui, tetapi Allah Maha Mengetahui.</p>
<p>Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan. (QS Al-Anbiya:110)</p>
<p>Sesungguhnya segala perbuatan yang kita lakukan akan dihisab semuanya. Berbahagialah bagi siapa pun yang terbebas dari kemusyrikan dan kemunafikan. Sehalus apa pun bersih hidupnya. Maka dibuat nyaman hatinya oleh Allah. Lepasnya hati dari selain Allah. Lillaahi ta’ala.</p>
<p>Apa yang menyebabkan orang cenderung munafik? Karena hati kita cenderung musyrik, menganggap ada sesuatu selain Allah SWT yang bisa memberi manfaat dan mudharat. Yang bersih hatinya ia akan terbebas dari sifat kemunafikan. Akhlak jelek karena hatinya busuk, dan hati busuk karena tauhidnya buruk. Akhlak jadi bagus, tauhidnya pun harus bagus.</p>
<p>Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS An-Nisaa : 142)</p>
<p>Allah tidak bisa dibohongi dengan cara apa pun, karena Dia mengetahui lubuk hati yang dalam. Hati ini harus lepas dari makhluk.</p>
<p><em>from:www.eramuslim.com </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ellilagi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ellilagi.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ellilagi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ellilagi.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ellilagi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ellilagi.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ellilagi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ellilagi.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ellilagi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ellilagi.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ellilagi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ellilagi.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ellilagi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ellilagi.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=134&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ellilagi.wordpress.com/2010/09/24/munafik-orang-penuh-rekayasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef4c96f2395b83de3d858de69ddf5722?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ellilagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Cara Mendekatkan Diri kepada Allah SWT</title>
		<link>http://ellilagi.wordpress.com/2010/09/22/beberapa-cara-mendekatkan-diri-kepada-allah-swt/</link>
		<comments>http://ellilagi.wordpress.com/2010/09/22/beberapa-cara-mendekatkan-diri-kepada-allah-swt/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Sep 2010 03:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ellilagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ellilagi.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[1. Sholat wajib tepat waktu, selalu berdoa dan berdzikir kepada Allah Dengan sholat, berdo&#8217;a dan dzikir kepada Allah, Inya Allah hati menjadi tenang, damai dan makin dekat dengan-Nya 2. Sholat tahajud Dengan sholat tahajud Insya Allah cenderung mendapatkan perasaan tenang. Hal ini dimungkinkan karena di tengah kesunyian malam didapatkan kondisi keheningan dan ketenangan suasana,yang tentu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=132&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Sholat wajib tepat waktu, selalu berdoa dan berdzikir kepada Allah<br />
Dengan sholat, berdo&#8217;a dan dzikir kepada Allah, Inya Allah hati menjadi tenang, damai dan makin dekat dengan-Nya </p>
<p>2. Sholat tahajud<br />
Dengan sholat tahajud Insya Allah cenderung mendapatkan perasaan tenang. Hal ini dimungkinkan karena di tengah kesunyian malam didapatkan kondisi keheningan dan ketenangan suasana,yang tentu saja semua itu hanya dapat terjadi atas izin-Nya. Pada malam hari, diri ini tidak lagi disibukkan dengan urusan pekerjaan ataupun urusan-urusan duniawi lainnya sehingga dapat lebih khusyu saat menghadap kepada-Nya. </p>
<p>3. Mengingat kematian yang dapat datang setiap saat<br />
Kematian sebenarnya sangat dekat, lebih dekat dari urat leher kita. Dan dapat secepat kilat menjemput. </p>
<p>4. Membayangkan tidur di dalam kubur.<br />
Membayangkan tidur dalam kuburan yang sempit , gelap dan sunyi saat kita mati nanti. Semoga amal ibadah kita selama di dunia ini dapat menemani kita di alam kubur nanti. </p>
<p>5. Membayangkan kedahsyatan siksa neraka.<br />
Azab Allah sangat pedih bagi yang tidak menjauhi larangan-Nya dan tidak mengikuti perintah-Nya. Ya Allah jauhkanlah kami dari siksa neraka-Mu, karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu.Ya Allah bimbinglah kami agar dapat memanfaatkan sisa hidup kami untuk selalu dijalan-Mu.……</p>
<p>6. Membayangkan surga-Nya.<br />
Kesenangan duniawi hanya bersifat sementara, sangat singkat dibanding dengan kenikmatan di akhirat yang tidak dibatasi waktu.Semoga kita dapat selalu mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan Insya Allah diizinkan untuk meraih Surga-Nya. Amin….. </p>
<p>7a. Mengikuti tausyiah atau mengikuti pengajian secara rutin seminggu satu kali (minimal), dua kali atau lebih. Insya Allah&#8230; dengan mendengar tausyiah atau mengikuti pengajian, akan meningkatkan keimanan karena selalu diingatkan kembali utk selalu dekat kpd Allah SWT. Perlu dicatat, dikarenakan iman bisa turun atau naik, maka harus dijaga agar iman tetap stabil pada keadaan tinggi/ kuat dengan mengikuti tausyiah, pengajian dsb. </p>
<p>7b. Bergaul dengan orang-orang sholeh.<br />
Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa tingkat keimanan kita bisa turun atau naik, untuk itu perlu dijaga agar tingkat keimanan kita tetap tinggi. Berada pada lingkungan kondusif dimana orang-orangnya dekat dengan Allah SWT, Insya Allah juga akan membawa kita untuk makin dekat kepada-Nya. </p>
<p>8. Membaca Al Qur&#8217;an dan maknanya (arti dari setiap ayat yang dibaca)<br />
Insya Allah dengan membaca Al Qur&#8217;an dan maknanya, akan menjadikan kita makin dekat dengan-Nya. </p>
<p>9. Menambah pengetahuan keislaman dengan berbagai cara, antara lain dengan : membaca buku, membaca di internet (tentang pengetahuan Islam, artikel Islam, tausyiah dsb), melihat video Islami yang dapat meningkatkan keimanan kita. </p>
<p>10. Merasakan kebesaran Allah SWT, atas semua ciptaan-Nya seperti Alam Semesta (jagad raya yang tidak berbatas) beserta semua isinya. </p>
<p>11. Merenung atas semua kejadian alam yang terjadi di sekeliling kita (tsunami, gunung meletus, gempa dsb). Dimana semua itu mungkin berupa ujian keimanan, peringatan, atau teguran bagi kita agar kita selalu ingat kepada-Nya/ mengikuti perintah-Nya. Bukan makin tersesat ke perbuatan maksiat atau perbuatan lain yang dilarang oleh-Nya. Ya Allah kami mohon bimbingan-Mu agar kami dapat selalu introspeksi atas semua kesalahan yang kami perbuat, meninggalkan larangan-Mu dan kembali ke jalan-Mu ya Allah. </p>
<p>12. Mensyukuri begitu besar nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT<br />
Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah orang lain yang lebih susah. Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh-Nya.Saat ini kita masih bisa bernafas, masih bisa makan, bisa minum, masih mempunyai keluarga, masih mempunyai apa yang kita miliki saat ini,masih mempunyai panca indera mata, hidung, telinga dan&#8230;masih bisa bernafas (masih diberi kesempatan hidup). Masih pantaskah kita tidak bersyukur dan tidak berterimakasih pada-Nya. </p>
<p>from: taushiyah-online.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ellilagi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ellilagi.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ellilagi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ellilagi.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ellilagi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ellilagi.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ellilagi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ellilagi.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ellilagi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ellilagi.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ellilagi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ellilagi.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ellilagi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ellilagi.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=132&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ellilagi.wordpress.com/2010/09/22/beberapa-cara-mendekatkan-diri-kepada-allah-swt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef4c96f2395b83de3d858de69ddf5722?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ellilagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mangkuk yang Cantik, Madu dan Sehelai Rambut</title>
		<link>http://ellilagi.wordpress.com/2010/07/20/mangkuk-yang-cantik-madu-dan-sehelai-rambut/</link>
		<comments>http://ellilagi.wordpress.com/2010/07/20/mangkuk-yang-cantik-madu-dan-sehelai-rambut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 08:22:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ellilagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ellilagi.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan ‘Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=130&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan ‘Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka <strong>madu</strong> yang diletakkan di dalam sebuah <strong>mangkuk yang cantik</strong>, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan <strong>sehelai rambut</strong> terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (<strong><em>Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).</em></strong></p>
<p>Abu Bakar r.a. berkata, “<strong>Iman</strong> itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, <strong>orang yang beriman</strong> itu lebih manis dari madu, dan <strong>mempertahankan iman</strong> itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.</p>
<p>Umar r.a. berkata, “<strong>Kerajaan</strong> itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, <strong>seorang raja</strong> itu lebih manis dari madu, dan <strong>memerintah dengan adil</strong> itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.</p>
<p>Utsman r.a. berkata, “<strong>Ilmu</strong> itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, <strong>orang yang menuntut ilmu</strong> itu lebih manis dari madu, dan <strong>ber’amal dengan ilmu yang dimiliki</strong> itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.</p>
<p>‘Ali r.a. berkata, “<strong>Tamu</strong> itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, <strong>menjamu tamu</strong> itu lebih manis dari madu, dan <strong>membuat tamu senang</strong> sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.</p>
<p>Fatimah r.ha.berkata, “<strong>Seorang wanita</strong> itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, <strong>wanita yang ber-purdah</strong> itu lebih manis dari madu, dan <strong>mendapatkan seorang wanita yangtak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya</strong> lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.</p>
<p>Rasulullah SAW berkata, “<strong>Seorang yang mendapat taufiq untuk ber’amal</strong> adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, <strong>ber’amal dengan ‘amal yang baik</strong> itu lebih manis dari madu, dan <strong>berbuat ‘amal dengan ikhlas</strong> adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.</p>
<p>Malaikat Jibril AS berkata, “<strong>Menegakkan pilar-pilar agama</strong> itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, <strong>menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama</strong> lebih manis dari madu, dan <strong>mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat</strong> lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.</p>
<p>Allah SWT berfirman, ” <strong>Sorga-Ku</strong> itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, <strong>nikmat sorga-Ku</strong> itu lebih manis dari madu, dan <strong>jalan menuju sorga-Ku</strong> adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.</p>
<p><em>from :ummuali.wordpress.com</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ellilagi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ellilagi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ellilagi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ellilagi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ellilagi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ellilagi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ellilagi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ellilagi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ellilagi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ellilagi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ellilagi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ellilagi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ellilagi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ellilagi.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=130&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ellilagi.wordpress.com/2010/07/20/mangkuk-yang-cantik-madu-dan-sehelai-rambut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef4c96f2395b83de3d858de69ddf5722?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ellilagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>http://www.eramuslim.com/hikmah/kisah-hati/allah-mengujiku-dengan-empat-nyawa.htm</title>
		<link>http://ellilagi.wordpress.com/2010/07/20/httpwww-eramuslim-comhikmahkisah-hatiallah-mengujiku-dengan-empat-nyawa-htm/</link>
		<comments>http://ellilagi.wordpress.com/2010/07/20/httpwww-eramuslim-comhikmahkisah-hatiallah-mengujiku-dengan-empat-nyawa-htm/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 04:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ellilagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ellilagi.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[http://www.eramuslim.com/hikmah/kisah-hati/allah-mengujiku-dengan-empat-nyawa.htm.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=127&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.eramuslim.com/hikmah/kisah-hati/allah-mengujiku-dengan-empat-nyawa.htm">http://www.eramuslim.com/hikmah/kisah-hati/allah-mengujiku-dengan-empat-nyawa.htm</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ellilagi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ellilagi.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ellilagi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ellilagi.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ellilagi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ellilagi.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ellilagi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ellilagi.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ellilagi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ellilagi.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ellilagi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ellilagi.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ellilagi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ellilagi.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ellilagi.wordpress.com&amp;blog=3186492&amp;post=127&amp;subd=ellilagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ellilagi.wordpress.com/2010/07/20/httpwww-eramuslim-comhikmahkisah-hatiallah-mengujiku-dengan-empat-nyawa-htm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef4c96f2395b83de3d858de69ddf5722?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ellilagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
